KENALKAN TRADISI NGAKEUL PADA KAUM MILENIAL
4 mins read

KENALKAN TRADISI NGAKEUL PADA KAUM MILENIAL

jurnalis.or.id – Kota Bandung, di jaman canggih ini serba elektronik seperti saat ini memang dapat membantu lebih cepat dalam melakukan segala hal, seperti dalam memasak nasi misalnya lebih praktis dan cepat saji menjadi alasan banyak orang memilih menanak nasi menggunakan mejikom, keberadaan elektronik tersebut tentu membuat banyak orang terutama Kaum Milenial tidak mengetahui bagaimana proses memasak nasi pada zaman dulu, untuk mengenalkan Tradisi memasak nasi zaman dulu Pemerintah Desa setempat menggelar Festival Ngakeul yang di gelar dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 74 tahun 2019 di Lapangan Papirasakan Desa Tani Mulya nampah Kabupaten Bandung Barat pada Minggu siang, Ngakeul merupakan tahap akhir dari proses memasak nasi, Festival Ngakeul ini di ikuti oleh 75 orang peserta meliputi 25 grup yang masing masing grup nya di bagi menjadi 3 orang dan merupakan perwakilan dari setiap RW setempat, sementara untuk tim penilai pihak panitia melibatkan 4 orang yang meliputi 2 orang guru dan 2 orang seniman asal Bandung, adapun yang menjadi penilaian pada Festival tersebut yakni mulai dari seluruh tahapan proses dalam menanak nasi seperti napi beras, mencuci beras, ngarih atau memasak nasi setengah matang, nyeupan atau menanak nasi hingga Ngakeul, atau tahap akhir pada proses menanak nasi di atas kulan, tidak hanya itu kekompakan dan costum adat sunda yang di pakai serta peralatan tradisional yang di bawa peserta di luar peralatan yang di sediakan panitia juga menjadi bagian dari penilaian.

”Untuk melestarikan kegiatan kegiatan orang tua pada zaman dulu terutama kepada generasi muda itu tidak tau masalah Ngakeul itu apa, jadi sekarang generasi muda terutama generasi zaman sekarang zaman now taunya pas di masukan listrik magicom, magicjet, langsung langsung di makan jadi tidak mengetahui proses proses ada di awalnya perjuangan dari awalnya, perjuangan orang tua bagaimana tatacara Ngakeul Beras menjadi nasi.” Ujar Lili Suhaeli Bakhtiar selaku Kepala Desa Tanimulya.

”Itu yang di nilai estetika nya dmna tehnik Ngakeul nya yah, anatara mengaduk nasi dengan di kipas gitu lalu untuk yang lainya kekompakan seragam atau kostum lalu perlengkapan selain yang sudah di sediakan oleh panitia, peserta juga membawa barang barang yang sekiranya bisa di pakai dan membantu ketika proses memasak.” Ujar Eneng Nanti Suryanti selaku Ketua Tim Penilai.

Festival Ngakeul ini belum pernah di lakukan di daerah lain, dan baru pertama kali di lakukan oleh Pemerintah Desa Tanimulya, respon baik pun terlihat dari antusianya peserta bahkan mereka berharap kegiatan ini agar rutin di gelar setiap tahun nya dengan tingkat peserta lebih banyak.

”Memasak itu enak nasi di Seupan gitu terus di Akeul kadang kadang ada asam ada putih nasinya sekarang mah bagus nenek dari dulu usianya udah 76, gak kenal magicom supaya kembali ke nenek moyang dulu kan ga ada minyak tanah, gak punya areng gak ada kan nyari kayu di hutan makan nya kita mengikuti nenek moyang dulu alhamdulilah bagus senang besok di ulang lagi yah.” Ujar Marwindrani selaku Peserta.

Menanak nasi dengan cara tradisional yang di lakukan orang tua zaman dulu, untuk tidak ada hanya sekedar menanak nasi melainkan memiliki pilosopi dari setiap prosesnya, mulai dari menyiapkan media tungku untuk pembakaran yang memiliki filosopi membakar hawa nafsu atau niat jahat manusia, kemudian ada suluh atau kayu bakar yang memiliki pilosopi memberikan penyeluruhan pada generasi muda agar kehidupan bisa terarah sesuai harapan yang baik, proses napi beras yang memiliki pilosopi untuk membersihkan hal hal yang buruk dengan cara memilah mana yang baik dan mana yang benar, kemudian ada proses musikan pada zaman dulu proses musikan atau membersihkan beras itu harus membaca Sholawat Nabi, sehingga hasilnya akan berkah lalu ada seeng yang di dalamya telah di isi air berfungsi untuk mengukus nasi, kemudian di panaskan dengan tungku api memiliki pilosopi bagaimana memupuk kondisi lingkungan yang memiliki beragam gejolak dengan cara memberikan keputusan bijak oleh para pengurus oleh sang pemimpin, di dalam seeng itu ada kriteria nasi yakni nasi setengah matang yang memiliki pilosopi bahwa dalam melakukan segala hal masyarakat, harus berpikir mateng sebelum bertindak tidak boleh setengah setengah hingga hasilnya akan bermanfaat dalam segala hal, di atas seeng kemudian ada aseupan atau kerucut segitiga yang memiliki pilosopi bahwa seluruh elemen masyarakat yang ada di lingkungan harus mengkerucut atau menjalin hubungan baik dengan manusia dan sang pencipta, usai para peserta menanak nasi Kepala Desa Tanimulya Lili Suhaeli Bakhtiar beserta istri di dampingi panitia dan tim penilai kemudian menyisir satu persatu setiap bidang yang di sediakan peserta untuk di cicipi kegiatan pun di akhiri dengan makan makan dan foto bersama.

Tonton via Vidio.com

Tonton via Youtube